You are currently browsing the category archive for the 'Bahasa Indonesia' category.

hidupku sekarang begitu indah

penuh dengan warna warani

penuh dengan kehangatan cinta setiap insan

aku tak pernah takut dalam kegelapan

karena ada cahaya terang yang slalu menyinari langkahku Read the rest of this entry »

Kegiatan sekolah Tarsisius II cup yang diadakan sejak tanggal 7 November dimana sekitar pukul 12 siang sudah ada persiapan untuk pembukaan Tarsisius II cup. Untuk tahun ini terlihat tidak begitu meriah seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena biasanya setelah pulang sekolah akan banyak siswa-siswi Tarsisius II yang akan menyaksikan sampai selesai, namun mereka lebih banyak pergi ke warnet. Mungkin warnet sudah mengalahkan popularitas TArsisius II. Sekolah-sekolah yang ikut bertanding juga tidak begitu banyak dari yang sebelumnya. Stand-stand yang ada juga tidak begitu banyak.

Pada intinya sih menurut saya tahun ini kurang meriah tapi tiket sama stikernya bagus banget.

Menurut pendapat saya mengenai novel Laskar Pelangi setelah saya membacanya, novel itu cukup menarik. Novel itu mungkin dapat menyadarkan kita terutama pelajar akan penting arti bersyukur. Saya mungkin termasuk anak yang beruntung karena saya masih memiliki kedua orang tua yang masih mampu bekerja banting tulang sehingga dapat menyekolahkan saya di sekolah yang cukup bagus, membelikan saya peralatan sekolah yang lengkap, dan menyediakan sarana prasarana yang saya butuhkan dengan cukup lengkap. Padahal dalam novel itu anak-anak yang bersekolah di SD Muhammadiyah sangat serba kekurangan. Sekolah yang bisa dibilang sangat tidak layak dipakai, pengajar yang hanya berjumlah dua orang, kelas yang dipakai harus berganti-gantian, sungguh menyedihkan sekali sekolah itu. Namun dengan keadaan yang seperti itu para pengajar beserta murid-murid masih dapat melakukan proses belajar mengajar dengan baik. Mereka masih dapat menikmati kegiatan mereka dengan baik. Saya sangat suka sekali dengan tokoh Lintang, ia adalah sosok yang patut dicontoh. Kegigihan dia untuk menempuh jarak 80 km bolak-balik rumah dengan sekolah selain tiu ia harus menempuh bahaya bertemu buaya tidak menggoyahkan niatnya untuk belajar. Padahal kalau saya menjadi Lintang saya belum tentu mau melakukan hal itu, karena jarak 40 km untuk ke sekolah tidaklah dekat apalagi ada buaya. Bukankah lebih baik saya di rumah saja dan belajar di rumah atau membantu orang tua bekerja. Read the rest of this entry »